Sunday, March 20, 2016

LOK CAN - Batik Tulis Rembang kuno (1)

SPECIFICATION :

Name of Motive : LOK CAN - Batik Tulis
Origin                :  Rembang - Central of Java - Indonesia
Process             :  Hand Drawn

Dimension        :  160 X 97 Cm
Type                  :  Sarong 

Material             :  China's Silk
Color                 :  Green   ***      
Ink                     :  Single color - Black
Ornament          :  Floral & Fauna
Age estimated  :  +/- 150 tahun
Condition          : some parts have holes.. torn...and knitted.
Place founded   :  Lombok - Indonesia.


Price on Request

NOTE : 
Penelusuran awal identifikasi motif/corak batik Rembang jenis ini agak rumit. Dari hasil googling hanya ditemukan 2 sumber kanal. Disana disuguhkan contoh cuma satu foto yang mewakili motif rembang.  Kebetulan motif-nya sangat mirip sekali. Tapi tidak disertai keterangan detail nama motif. Yang disebutkan justru papar keterangan bahwa secara umum batik Rembang secara corak adalah ciri fusi pengaruh warna budaya antara Jawa, Arab, Cina, India dan Eropa. Yang tidak lebih relevan lagi motif terkenal justru disebut dengan nama 3 negeri. Juga ada 4 negeri. Penamaan 3/4 nagari ini bukan mengacu pada nama negara, tetapi inisial dari penamaan dari status wilayah administrasi yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda dimasa lalu. Sehingga secara kategori batik ini disebut sebagai khas batik Pesisiran. Identik dengan perkembangan industri batik diwilayah pesisir. Atau kelak (masa kini) kita lebih  mengenal dengan wialyah Pantura. 
Bahkan kecamatan Lasem (Lao Sam) sebagai kota ke-2 terbesar dikabupaten Rembang. Dikatakan memiliki perkembangan pesat dibidang Batik. Sampai-sampai dijuluki Tiongkok Kecil. Ini terkait dengan sejarah ekspedisi Chengho. Proses perpindahan warga tiongkok hingga menetap dan mewarnai (akulturasi) peradaban di tanah Jawa. Ciri budaya dan penetrasi di motif batik Lasem yang kental nuansa china adalah penyertaan burung Hong. Alias Phoenix yang dianggap sebagai hewan sakral dalam mitologi bangsa China.
Di kanal lain malah yang disebutkan motif terkenal dengan debut Motif Latohan dan Watu Pecah. Ini-pun belum mengarah pada jawaban atas penyidikan motif bersangkutan.

Pengembangan analisa mutlak diperlukan. Apalagi secara lingkup teritorial Rembang dan Lasem berdekatan. Akulturasi dan jalin warna peradapan itu pasti terjadi. Budaya membatik sudah seiring sejalan pada periodik kurun masa itu. Dan justru paling mudah ter-"baca" dari gambar ikon di Batik Tulis Rembang ini adalah gambar burung Hong, sang aves mitologi tadi. Sajian corak motif di batik Rembang ini jika disandingkan pada motif 3 negeri jelas akan beda variasi ornamen dan taste visualnya. 3 Negeri terpampang lebih eksotis dan tetap menyertakan ikon burung Hong tapi dalam porsi nyata. Agak realis. Sementara Hong dan pernik ornamen pendukung di batik Rembang ini dibikin lebih minimalis. Artinya dibuat dalam goresan-goresan sederhana. Sentuhan etnik lebih terasa. Bobot nuansa primitif kental seperti mencerminkan budaya pagan. Sebagai konsep isme pada lingkungan/alam yang memiliki dinamika energi.
Keluguan tarikan gores diperkuat oleh garapan hasta langsung. Entah identik pengrajin atau penggarap dengan muatan seni tersendiri. Lebih spesial sebab cuma mengandalkan 1 warna tinta. Isen-isen di imbuhan ornamen utama dan pendukung lebih kaya permainan garis...kurva..bulatan..liukan garis khas adaptasi patra. Terakhir baru permainan variasi titik-titik. 

Namun, bagi saya ciri penyajian paling spesifik adalah rupa helai sayap-ekor burung dan pemanis riasan bunga tampil dengan rumbai-rumbai memanjang. Seperti performa sisir.. "Comb looks-like".  Selain tentu-nya formasi bentuk bunga lain. Ornamen bunga pembatas rias pinggir berupa kwartal kuncup dengan helai sulur jamak. Mengingatkan gaya patra bunga di pahatan kayu tradisional khas Indonesia. Satu lagi, terdapat motif daun pakis. Sejauh dugaan, mungkin ini sebentuk pesan. Apresiasi terhadap tanaman paku-paku-an (Fern) yang memberi nilai manfaat sebagai pakan alternatif masyarakat. Selain manfaat ekologis juga nilai ekonomis.

Secara kondisi, batik tulis rembang "tempo doeloe" ini sudah terlihat renta. Pada bagian pinggir dan sudut tertentu terlihat robek dan bolong. Ada pula tindak perbaikan dengan upaya menjahit. Bisa dimaklumi karena faktor aging. Dan juga terkait perlakuan cara penyimpanan dari eks pemilik sebelumnya. Sehingga tidak terpikir upaya memadai untuk antisipasi faktor jamur. Terlebih kain berumur akan butuh extra perlakuan khusus. 

Lalu bagaimana kaitan bisa nongol di Lombok. Alasan-nya bahwa kain ini memang di miliki oleh salah satu keluarga dibilangan Ampenan-Lombok. Secara silsilah merupakan keluarga pedagang/bisnis dan campuran bangsawan. Masih teguh memelihara prosesi rangkaian budaya adat pada momen tertentu. Memiliki koleksi dari rangkaian koleksi busana, kain asli khas Lombok hingga atribut aneka pernik perhiasan adat lama.
Pada awal-nya ada pendapat menyebutkan bahwa ini adalah kain khas aseli buatan Lombok. Secara lugas, garis level cucu/cicit menyebutnya juga dengan julukan 'kain Rembang'. Tanpa embel-embel batik. Tapi saya pribadi punya pendapat lain berdasarkan kaitan serangkaian fakta dalil. Sekalipun di kawasan pesisir selatan dari Kabupaten Lombok Timur ada tempat bernama desa Rambang. Terletak diantara jalur LabuanHaji dan Tanjung Luar. Rambang edisi 50-60's pernah dibangun bandara perintis tapi hanya untuk keperluan penunjang kepentingan AURI. Sementara Labuhan Haji era lama juga merupakan kota bandar dengan perkembangan sirkulasi ekonomi lumayan baik. Setidaknya masih dianggap sebagai daerah kantung ekonomi penunjang wilayah timur pulau.
Konon, dulu Masyarakat-nya masih guyub dengan beragam etnis. Termasuk Tionghoa. Hanya sejarah bicara lain. eksodus besar-besaran warga keturunan terjadi ketika pertengahan 60-70'an, sejak pecah peristiwa G-30-S. Sejalan waktu, entah itu terkait rangkaian kebijakan dan rencana strategis dari pengendali kepentingan. Eksistensi pusat perkembangan kemaritiman tetap berada di Ampenan, wilayah sisi barat pulau. Kawasan batas akhir yang relatif masih 'aman'. Lebih dinamis dalam struktur kemasyarakatan yang majemuk. 
Sebagai gerbang utama yang sokong niaga dan perekonomian vital. Bukan saja berstatus sebagai gapura utama pulau Lombok saja. Bahkan mempengaruhi rangkaian estapet perkembangan nusa arah timur. Lingkup Sumbawa sebagai titel NTB. Bahkan kota bandar Ampenan sudah sangat terkenal sejak era pendudukan kolonial Belanda, yang masa sebelum kemerdekaan dikenal dengan istilah Sunda Kecil.
Dikaitkan dengan budaya tekstil adat. Apakah 'masa' itu berkembang batik di Lombok...ataupun sentra kerajinan di batik Rambang? Skeptis saya malah! Sebab secara geliat peradapan dikancah adat pedalaman dan runut jejak sidik identitas warna budaya di museum berkata lain. Warga Lombok asli sangat lebih friendly dengan busana songket. Kain Sesetan hasil kinerja tenun tangan non mesin. Bahkan jejak peninggalan-nya masih bertahan hingga sekarang. Di kampung Rambitan atawa desa Sukarare. Bahkan secara gulir promosi pemerintah daerah menjadi ikon penunjang derap laju Pariwisata.

Well, 
Jadi apakah tidak mungkin ada segelintir sentra batik di Lombok? Jaman itu bisa dipastikan tidak ada. Pengrajin batik baru muncul edisi 2000-an Akhir-akhir ini, melalui gerakan pemberdayaan ekonomi kreatif dengan nama batik SaSaMbo. Selain upaya polemik industri juga kreasi gaya baru yang sebenarnya lebih berusaha mencapai tatanan Mono-identity dari triple wajah kesukuan yang ada. Malah pada penafsitan agak kontra-produktif setelah saya lakukan penyidikan singkat. Hm, untuk detil unek-unek sudah saya tuang di posting kanal blog lain. Batik SaSaMbo.. batik tanpa pakem tradisi                


taken from enotes.com
Perspektif berikutnya adalah besar kemungkinan stok kain asal Rembang (asal jawa) ini memang masuk melalui geliat perniagaan murni. Sebagaimana konsep lahir muasal-nya dulu. Corak  batik Lasem-Rembang diprakarsai oleh kaum migran, Tionghio keturunan. Dikenal status batik pesisiran yang memiliki kesan universal dan egalitarian. Dari sana memang berkembang-biak di pesisir...ber-infiltrasi ke wilayah lain, pasti di lingkup sedi-sedi pesisih (bahasa sasak yang artinya 'pinggiran-pinggiran pantai. Coastline). Rangkaian lahiriah konsep basis kepulauan. Antar nusa...Nusantara!


rupa kepompong ulat sutra dikenal sebagai Kokon
Kini jika ditinjau dari bahan dasar sutera. Indikasi bahan material mahal. Akan lebih riskan lagi kalau mengaitkan bahwa ini produk lokalan. Sebab peradapan lama yang telah jauh giat membudidayakan dari mulai kepompong...sampai aktif berproduksi kain sutera adalah negeri Tiongkok. Sangat relevan dengan sejarah jalur sutera... Silk Road.  Yang kelak dalam penyebaran-nya dilakukan baik via darat maupun laut. 
Asumsi ini setidaknya mulai merangkai struktur dugaan dan analisa sebelumnya. Bahwa sutera merupakan bahan pilihan berkategori import. Berkelas dan tentu saja kans-nya sangat terbatas dimiliki. Hanya oleh kalangan tertentu saja. Dalam hal ini lebih ditunjang faktor ekonomi berkecukupan Sudah mapan! Toh secara gamblang diakui oleh pemiliknya sebagai generasi trah ke-3 (garis anak umur 50-60 tahun). Ayahnya yang sepuh hampir mencapai usia 89 tahun. Artinya kisaran lahir antara 1927/1930.  Kain ini sudah dimiliki sejak strata moyang. Yang besar secara hitungan usia  bisa diprediksi jika ditarik mundur sekitar 1800-an. Selain berdarah bangsawan lokal juga bertemu gen keturunan Palembang. Sebagaimana fakta kota bandar di Ampenan dan wilayah sekitarnya. Proses akulturasi budaya itu-pun otomatis telah membawa nuansa pembauran unsur masyarakat heterogen. Warna peradapan ini yang kemudian berujung pada penamaan identik. Misal saja : Kampung Banjar, Bugis, kampung Arab, Karang Ujung (Karang ideal zona rumpun etnis hindu Bali). Pemukiman warga keturunan cina alias kecinan/pecinan (china town).  Hingga tempat saya bermukim Kampung Melayu. Sedikit merayap ke range luar ada penamaan kampung Tangsi dan Kapitan. Nuansa bandar itu tetap melekat sekalipun edisi kini populasi sudah semakin lebih campur-baur.
Secara kesimpulan akhir..itulah unik-nya selembar kain batik. Jika dikaji lebih runut tidak saja akan membawa jalinan warna kisah dan sejarah yang melatar belakangi. Namun juga mengulas nostalgia serambi tempo dulu.

Apakah cukup disitu. Ternyata apresiasi tentang 'kain' Rembang ini juga hadir dalam satu tembang kreasi baru. Jika awalnya saya masih sangsi terkait konotasi batik ataukah kain lokal. Maka simak saja deretan lirik berikut. Sekalipun berupa rima dasar dari cuplikan pantun tapi jelas disebut dengan judul resmi "Batik Rembang".
"Batik Rembang - Batik Rembang beteluki... Uni jajak gamaq kakak dalem dese... Apik ntan apik ntan de side muni... Uni salaq gamak kakak sik te sede".

Boyak empak lek segare.. kadu kandok kance nasi... mele bketoan sareng sami.. silak pade lampak bace cerite. Mencari ikan dilautan...untuk bekal lauk berteman nasi. Ingin bertanya pada semua ..mari berjalan baca cerita. Pamit dan salam.

ADDITIONAL :
Finally, geliat pencarian nama motif ini membuahkan hasil. Lebih spesifik kain ini disebut Batik LOKCAN. Beberapa kanal lain menyebutnya sebagai kain yang dipakai khusus acara seremonial. Sebagaimana juga pada terapan pemakaian busana adat lelaki sasak umumnya. Batik Rembang alias lokcan ini dipakai sebagai asesoris tambahan bagian bawahan.
penampilan busana adat sasak. Yang sebenarnya secara trah lebih
bernuansa adat Bali & Jawa.
Sebagai lapisan tambahan kain utama songket asli khas Sasak, disebut
leang atau dodot. kemudian baru dikenakan batik/lokcan. Lokal sasak menyebutnya penempatan kain sisipan itu dengan istilah Kain Dalam Dengan Wiron. Yaitu penutup bawah yang menumpuk pada songket utama, tapi dibedakan dengan cara pemasangannya di-wiru. Dilipat susun dengan salah satu ujung kain menyentuh hingga batas mata kaki. hal ini sebagai perlambang sikap rendah hati. Batik Rembang dengan motif lokcan sekarang ini sangat sulit ditemui pada pemakaian masa kini. Alasan-nya batik rembang motif lokcan selain jika asli pasti mahal, dus pada masa lalu hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. Orang kaya/mampu. Sehingga pada perkembangan berikutnya, Wajar, biasa-nya diganti dengan motif songket lain. Adapun atasan tetap jas hitam, pegon. Selain juga merupakan pengaruh dari trah akar budaya jawa dan sentuhan eropa. 

Lokcan secara muasal juga disebutkan dari Juana(Juwana), wilayah yang terletak antara Pati dan Rembang. Sekalipun kanal lain juga menyebutkan indramayu juga resmi mengklaim bahkan telah mematenkan pakem lokcan sebagai motif khas asal Indramayu (http://www.bloggermangga.com/2015/03/50-motif-batik-indramayu-yang-sudah.html). Hanya saja lokcan indramayu telah mengalami modifikasi multi warna. Tidak seperti lokcan asal rembang/juana yang khas mengandalkan single warna.
Dan yang lebih menarik pada Lokcan Rembang (1) ini adalah pemilihan warna dasar hijau. Padahal umumnya lokcan berwarna dasar krem/coklat muda (beige). Dan tentu saja ini sebagai indikasi nilai plus. Jarang ditemui alias kategori Rare. Lokcan dengan bahan dasar sutera cina edisi lama sudah sangat jarang ditemui. Kalaupun ada pasti telah menjadi item limited yang susah dicari. Hanya terpajang di galeri pribadi dan rumah butik tertentu.Bahkan di koleksi pihak museum. Semisal Los Angeles county museum of art and wetherhill.   




rupa batik dipampang terbuka, terlihat muotif utama adalah burung Hong dan aneka bunga .

Pada poligon kuning adalah motif untai daun yang menggambarkan tumbuhan Pakis. Juga tampak jahitan halus upaya menyambung bagian yang robek.



beberapa bagian pinggir terlihat sobek dan terkoyak

Bagian jahitan yang tidak simetris. Paduan letak motif jadi tidak tepat. Namun bisa jadi ini karena faktor perbaikan.




bagian ujung pinggiran yang paling rentan lapuk

1 comment: