Friday, December 31, 2010

spasi WAKTU......,


adalah WAKTU yang ter-BAHARU-kan....
tidak sekedar pilihan FONT!

(Wal ASRI)

Tuesday, November 23, 2010

FS : badik single....,

Kind of Item : Badik - ancient
origin region : Maros ~ Sulawesi
Total length : 22 cm
Blade length : 14,5 cm
Motive : wrought Iron - metal handiwork
kind of metal : Luwuk (sulawesi' district)
Wooden sheath : Kemuning (Murraya paniculata)

price : Rp 1.600.000,- ( include shipping cost Indonesia zone only)




vertical balancing...,

Perfect's horisontal balancing



closed up motive wrought of metalurgi....,

Wednesday, November 10, 2010

Duo-Badik...detil performa bilah.

Menyambung bahasan posting sebelumnya perihal duo-badik. Upaya kini lebih untuk mengamati detil pakem standar garapan bilah. Wacana pendahulu, saya sempat dibingungkan si badik maros yang se-olah miliki 'cacat' pada bilahnya. Sedikit ada gores lurus, prediksi sebelumnya ini adalah upaya oknum pemilik (sebelum saya) yang ingin memotong sang Badik. Sebab tabiat seperti itu kerap terlontar pada beberapa pemilik badik. Umumnya, sebagai hitungan kadar khusus. Semacam istilah tayuh pada komunitas keris Jawa.

Namun sejak kedatangan hibah keris ke-dua, tipe duo-maros ini seperti mengungkap gambaran fisik terlahir. Ke-2 bilah ternyata memiliki kesamaan paras bilah. Baik alur pamor maupun bahan material (maaf belum terdeteksi juluk lokal - khas penamaan pamor polobessi). Yang paling signifikan justru "retakan" horisontal pada kedua bilah, kurang-lebih persis di tengah hunus bilah.

Apakah ini sebagai ada pemaknaan tersendiri? stempel karya metalurgi dari sang panre (istilah empu penggarap keris/badik region Sulawesi), mungkin saja. Tentu akan menjadi penceerahan yang berharga andai ada pihak yang bisa mengungkap misteri retak bilah ini.
At least, secara gamblang silahkan amati langsung pada derep gambar terlampir....,






zooming... perhatikan retakan alur atas-bawah
yang terlihat seperti memotong bilah badik




Thursday, November 4, 2010

identifikasi duo-badik....,




Kasus rada unik,
Kali ini saya dihadapkan pada identifikasi 2 badik yang sejenis. Pada inset, tampak yang sudut kiri merupakan badik saya terdahulu. Liat wacana berjudul "Badik Polos ala Maros".
Reuni dua karya senjata tradisional. Rasanya komentar yang paling sesuai wacana. Secara pakem standar produksi terlihat sangat mirip. Baik penggunaan jenis kayu (kemuning) maupun motif ukir sederhana pada profil pangkal warangka (sheath). Bentuk hulu total sama, hanya berbeda pada guratan lis pada pangkal hulu. Triple garis dan dual garis. Termasuk bentuk ujung sarung. satu tegas runcing... dan tipe ke-2 tampil tumpul. Selebihnya ikuti melalui segmentasi foto terlampir.
Perbedaan paling kentara adalah pada performa bilah. Badik Maros tipe ke-2 ini lebih terlihat alur pamor-nya. Lapisan jenis logam dengan permukaan rata (flat-coating) tidak begitu terlihat seperti jenis badik tipe pertama. Lebih spesifik, ke-2 bilah memiliki 'tanda' khas. Seperti bekas alur potongan. Mungkin menjadi stempel khusus sang panre. Bahkan sisipan 'pesan' identikal pembeda dari karakteristik si kreator.
Di bahasan sebelumnya telah saya singgung, badik pertama ber-warangka tirus, saya dapatkan di jajaran kios barang antik. Sementara badik ke-2 (ber-warangka ujung tumpul) merupakan limpahan hibah dari kerabat dekat. Secara dramatik, pertemuan dua badik ini ber-muara di jajaran koleksi pribadi. Be my guest... as dual-core family!

purna rupa bilah...

duo-badik... closer!!!

motif ukir pangkal bilah


beda tipe ujung warangka (sheath)



perhatikan beda rupa hunus bilah...,

titik balancing.... not bad!

beda spesifik pangkal bilah...

Sunday, September 5, 2010

Reparasi keris Lombok ....,

Ramadhan 1/3 akhir....,
Waktu menghantar rutinitas harian. Ada kans saya gunakan untuk penuhi hajat tertunda. Gara-gara gak sengaja ketemu tukang sampleg keris. Alias pengrajin dan tukang reparasi keris. Itupun hanya sekedar menambah secuil atribut pada keris Lombok yang saya miliki. Ower-ower, cincin dibagian antara pangkal bilah dan pesi. Agar berpenampilan pakem khas demi kesempurnaan nuansa bangun struktur yang utuh.
Berikut, tampak pada inset adalah kondisi keris sebelum prosesi rehab. Warna terlihat dominan legam. Saya dapati sejak awal peroleh memang begitu. Tampak diselubung transparansi lapisan pernis. Hasil kerja asal garap, tebal-tipis. Mungkin sekedar dipoles pernis ala sapuan kuas tangan. Alhasil, keris ini kian terkesan terbengkalai, gak dipelihara secara memadai oleh pemilik terdahulu.
Saat penyerahan pada tukang sampleg, saya mendapat anjuran lain. Muncul ide untuk "kuliti" cover pernis. Alibi sederhana demi mendapatkan kembali nuansa layak. Terutama sisi eksotis pada pamor kayu totalitas warangka. Motif alamiah sebagai bawaan muasal kayu Timoho, alias Berore pelet sebagai sebutan resmi lokal. Menyelaraskan kembali nuansa terlahir, sajian sensasi kuning ala Berora. Bagi saya ini opini menarik.

Tibalah waktu akad ambil...,
Ternyata hasil-nya mengundang decak kagum. Keris Lombok saya serasa lahir kembali. Penampilan asli yang selama ini hilang dibalik selimut pernis. Laksana daur hidup ular... periodik ganti kulit. Sensasi yang tersembunyi....,
Next, saya semakin mudah identifikasi jabar dan ciri khas varian pelet Timoho...the wooden's tatto! Berdasar referensi terdapat triple baur jenis pelet Berora di warangka keris ini. Yaitu ;
  1. motif Porong pada Gandar
  2. motif pola tertentu.. black outliner pada Angkup (ntar menyusul istilah lokal)
  3. motif pola Hewan tertentu pada Hulu/Danganan/Danda
Selanjutnya, nikmati per-segmen photo terlampir. Setidaknya mengukuhkan kembali slogan lama, mendapati kelangkaan dari suatu wujud benda merupakan anugerah dan kepuasan tersendiri.



NOTE : secara utuh bangun warangka keris ini disebut GAYAMAN

Pada selongsong utama warangka, pelet (motif kayu) memiliki varian berbeda
Pada bagian Gandar ini bahasa lokal-nya disebut pelet Porongmotif berupa warna coklat & hitam berbaur dengan noktah tidak teratur
kini perhatikan bagian 'Angkup' disebut model Tolang Paoq (Biji Mangga)
jenis motif Berora/Timoho ternyata menggunakan jenis pelet yang berbeda dari bagian Gandar.
memiliki motif tompel alamiah.. tapi klo diperhatikan seksama akan terlihat unik-nya.
bagian Pelet warna coklat selalu di kelilingi pelet garis hitam sebagai outline


pemasangan Ower-ower sbg atribut pelengkap
tampilan keris yang sempurna.
inset : perhatikan detil.... outline hitam membatasi tompel coklat

Perhatikan sisi lain bagian Angkup....,
membentuk pola tertentu lingkar MERAH
sebelah kiri : seolah bentuk kepala orang yg terlihat tertawa
sebelah kanan : seperti burung yg sedang terbang

motif pelet sebelah kiri bawah juga sekilas mirip gambar benua Afrika...,



Kini beralih pada motif pelet kayu berora pada Hulu/Danganan...,
Ternyata juga menggunakan kayu berora/Timoho ber-motif lain..
Noktah pelet bercampur semburat garis-garis ekor....

sisi lain hulu/Danganan...

Kini terlihat motif tertentu...
tampak seperti Burung mengangkat sayap dan sedang bertengger
di naungi noktah oval hitam (laksana bulan)


reka kilas pola...



Pamor pada bilah adalah jenis pamor tiban alias tanpa rekayasa pola sebelumnya,
untuk bisa menikmati lebih detil silahkan trak link di SINI

Thursday, August 19, 2010

FS : Badik Polos... ala Maros

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...,
Beralih item....,
Penampilan badik yang satu ini juga sangat sederhana. Sedikit menyerupai model badik perdana yang saya miliki pada posting sebelumnya. Warna triple-tone, khas nuansa kayu Kemuning. Variasi kuning-krem pastel dan legam coklat. Minimalis lis ukir di pangkal warangka. Sedikit pembeda hanya pada ujung warangka dengan format tirus hujam, sharp tip-toe pointed.
Rentang bilah capai 15.5 Cm. Liuk-nya sedikit lugas, dengan segmentasi cukup menawan. Sangat berbeda dengan tampilan badik khas daerah Bone. Misalnya tipe ala La Gecong. Melangsing kian ke ujung bilah. super tirus... mengecil di bagian pangkal bilah.
Menurut keterangan seorang rekan, Badik ini merupakan khas asal daerah kabupaten Maros. Tentu saja bukan opini absolut bila memang terjadi indikasi salah identifikasi. Bagi saya akan sangat menghargai bila ada input koreksi dari rekan pengunjung blog, yang mungkin lebih paham.

Material bilah kusam. Mungkin hanya campuran bijih besi dan baja, non bahan meteorit. Tampak sekilas mudah di-amati pada jejak pola tempa. Bisa terlihat tehnik lipatan retak material tempa.
Ada sedikit kondisi mengenaskan pada bagian jejak fisik bilah. Mungkin pernah hendak dicoba rekayasa potong panjang bilah. Sehingga terdapat bekas garis penanda, tidak cukup dalam, tapi sangat jelas terlihat. Apakah sinyalemen 'niat' pemilik terdahulu. Wallahualam....,
Namun seperti-nya tujuan itu urung dilakukan. Memang klo dilihat secara center body mata pipih bilah bagian atas agak sedikit bengkok. Alhasil badik ini kehilangan porsi balans dalam mata bilah secara timbang horisontal. Sekalipun tidak pengaruhi uji abilitas berdiri alamiah-nya bersandar pada warangka.

Tabiat 'potong-bilah' ini ada beberapa kali saya dengar. Terungkap sekian versi, konon muasal sebab tertentu. Larangan sandang pakai di khalayak umum (tanah Sulawesi) dan razia besar-2an dari pihak berwajib. Sementara beberapa orang yang masih ingin melestarikan budaya selip badik sebagai atribut khas kaum lelaki sulawesi umumnya. Untuk alasan ini sedikit diwarnai bumbu mistis, nir-Logika. Prosesi potong bilah tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus berdasarkan kajian oknum ber-skill tertentu. Ada perhitungan khusus... mungkin semacam bekal ilmu tayuh dan penyelarasan (revisi) kadar tuah bagi si pemilik. Functionable - fengshui... sehingga pada saat rutinitas selip sandang si badik tidak terpantau. Timbulkan efek kasat mata bagi penglihatan 'niat' oknum perazia. Sekali lagi Allahualam....
Versi beda kubu bilang lain.
Tipikal badik yang mampu lolos saat penggeledahan adalah kategori benda mumpuni. Layaknya tosan aji alias pollobessi pilihan. Memang secara wujud muasalnya sudah ter-kreasi berpondasi tuah-tuah yang mengiringi. Sebuah masterpiece dari para jajaran panre dengan bekalan masing-masing strata keahlian. Kurang-lebih begitu...,

Kembali pada 'nasab' si badik polos maros,
Saya pribadi lebih curious pada spesifik pola pikir menghargai karya leluhur saja. Upaya pelestarian benda rana budaya. Beserta publikasi ala mandiri. Bahwasa-nya suatu benda etnografis macem badik ni, diciptakan melalui prosesi ritual tersendiri. Rangkaian tatakrama dan subsidi harapan via doa maupun mantera. Adalah sangat disayangkan bila membongkar format kandungan yang terlanjur di sisipkan sesuai bahasa programmer-nya. Kecuali demi tujuan up-grade ikonik status. Sah-sah saja...,
Anggaplah pertemuan kami adalah sebuah rangkai filosofi temu jodoh. Apapun keadaan si badik. Mengembalikan sebagai harkat menjaga identitas kekayaan citra nusantara. Andai berharap bisa kembali normal, tentu bukan sentuhan ahli ketok magic yang saya butuhkan. Akan sangat bersyukur.. bila saya ditemukan panre linuwih ber-daya pejje.
Harapan adalah doa... mumpung sedang terhantar masa kesucian Ramadhan. Amin...ya Rabbal Al-Amin... Segala puji bagi Allah... Tuhan yang Maha TerPercaya.
Salam senantiasa bagi semua... Wassalam.











silahkan yg berminat , Mahar : Rp 1.500.000,-